Pengertian Pragmatik
Pragmatik adalah cabang linguistik yang membahas bagaimana konteks mempengaruhi makna dalam komunikasi. Dalam komunikasi sehari-hari, pragmatik berperan penting dalam memahami pesan bukan hanya dari segi bahasa yang digunakan, tetapi juga dari konteks sosial, situasi, dan hubungan antar pembicara. Misalnya, ketika seseorang berkata “Bisa membuka jendela?” dalam konteks percakapan di ruangan yang panas, jelas bahwa maksudnya adalah permohonan untuk membuka jendela, bukan sekadar pertanyaan tentang kemampuan membuka jendela.
Pentingnya Konteks dalam Komunikasi
Konteks adalah elemen kunci dalam pragmatik. Ada berbagai faktor yang memengaruhi konteks, seperti situasi, latar belakang pembicara, dan budaya. Misalnya, dalam situasi formal, seseorang mungkin lebih cenderung mengatakan “Apakah Anda berkenan untuk memberikan saya informasi tersebut?” dibandingkan dalam suasana santai di mana bisa saja cukup dengan “Bisa kasih tahu saya?” Dalam contoh ini, penggunaan bahasa formal menunjukkan penghormatan dan kesopanan yang lebih tinggi.
Implikatur dalam Pragmatik
Implikatur adalah makna yang tidak diungkapkan secara eksplisit tetapi disampaikan melalui konteks dan situasi tertentu. Misalkan satu teman berkata, “Kebetulan ada hujan deras, ya?” saat mereka berniat mengajak teman lain keluar. Jika teman itu tahu bahwa lawan bicaranya tidak membawa payung, maka implikatur yang mengalir di sini adalah ajakan untuk tidak pergi. Implikasi ini timbul dari perhatian terhadap keadaan yang ada, dan itu merefleksikan kefasihan dalam berkomunikasi secara pragmatis.
Deiksis dalam Berbicara
Deiksis adalah aspek pragmatik yang berkaitan dengan kata-kata yang bergantung pada konteks untuk makna yang tepat. Kata ganti orang, waktu, dan tempat adalah contoh klasik dari deiksis. Saat seseorang berkata “Saya akan pergi ke sana,” kata “saya,” “pergi,” dan “sana” memiliki makna yang berbeda tergantung pada siapa yang berbicara, kapan, dan di mana. Misalkan dua teman berbicara di luar ruang kelas, jika salah satu dari mereka berkata “Saya akan pergi ke sana,” frasa “sana” bisa merujuk pada kafetaria, sedangkan jika diucapkan dalam konteks di dalam kafetaria, mungkin itu berarti ke luar ruang.
Politeness dan Strategi Berkomunikasi
Strategi kesopanan dalam berkomunikasi adalah bagian penting dari pragmatik. Dalam banyak budaya, mempertahankan keharmonisan hubungan antar individu dapat lebih penting daripada penyampaian pesan yang langsung. Contohnya, saat meminta seseorang untuk melakukan sesuatu, orang sering kali menggunakan ungkapan lemah atau menyertakan ungkapan sopan. Seorang atasan mungkin berkata, “Apakah Anda bisa menyelesaikan laporan ini?” daripada “Selesaikan laporan ini.” Perbedaan sederhana ini mencerminkan kesadaran akan hierarki sosial dan memastikan komunikasi tetap ramah.
Bahasa Nonverbal dalam Komunikasi Sehari-hari
Komunikasi tidak hanya terdiri dari kata-kata, tetapi juga melibatkan elemen nonverbal seperti gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan intonasi suara. Misalnya, saat mengungkapkan persetujuan, anggukan kepala dan senyuman bisa lebih efektif daripada sekadar mengatakan “Ya.” Dalam obrolan santai, sikap tubuh yang terbuka dan tatapan langsung dapat menunjukkan keterlibatan dan minat dalam percakapan, sementara sikap yang tertutup atau menghindar dapat menyampaikan ketidaknyamanan atau ketidaksetujuan.
Kesalahan dalam Memahami Pragmatik
Kesalahan dalam memahami pragmatik dapat berujung pada kerancuan dan misinterpretasi. Misalnya, jika seseorang yang tidak akrab dengan budaya tertentu mengungkapkan komentar yang di anggap terlalu langsung, mereka mungkin dianggap kasar atau tidak sopan. Penggunaan frasa atau ungkapan yang tepat juga sangat penting, terutama ketika berkomunikasi dengan seseorang dari latar belakang budaya yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman mendalam tentang pragmatik menjadi sangat esensial dalam komunikasi yang efektif.